
Pengertian
Batu bara merupakan salah satu sumber energi primer yang dipercaya berasal dari pohon-pohon dan pakis yang hidup sekitar 3 juta tahun yang lalu yang kemudian terkubur karena adanya gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Batu bara mempunyai sejarah yang sangat panjang. Batu bara diyakini pertama kali digunakan secara komersial di Cina. Terdapat laporan akan adanya suatu tambang di timur laut Cina yang menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk membuat uang logam pada tahun 1000 SM. Sedangkan petunjuk terawal tentang batu bara berasal dari seorang filsuf Yunani yang bernama Aristoteles yang menyebutkan adanya arang seperti batu. Abu batu bara juga telah ditemukan di reruntuhan kerajaan Romawi. Ini menunjukan bahwa batu bara telah digunakan bangsa Romawi sejak tahun 400 SM.
Batu bara menjadi sangat dibutuhkan ketika penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt yang dipatenkan pada tahun 1769. Namun batu bara mengalami kalah pamor dengan seiring meningkatnya pemakaian minyak. Dan pada tahu 1960, minyak menempati podium tertinggi sebagai sumber energi primer menggantikan batu bara.
Krisis minyak yang terjadi pada tahun 1973 dan labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah menyadarkan berbagai pihak bahwa ketergantungan yang sangat akan salah satu sumber primer (minyak) akan menyulitkan upaya pasokan energi yang kontinyu. Sejak saat itu, batu bara mulai digunakan sebaga alternatif sumber energi primer, disamping faktor berikut :
1.batu bara dapat ditemukan di negara-negara maju maupun berkembang dan cadangannya sangat banyak,
2.harganya murah dan aman untuk ditransportasikan maupun disimpan, dan
3.kualitasnya tidak banyak terpengaruh oleh cuaca.
Menurut data yang diperoleh dari BP Statistical Review of Energy 2004, pada tahun 2003, delapan besar negara-negara dengan cadangan batubara terbanyak adalah Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia, Jerman, Afrika Selatan, dan Ukraina.
Di Indonesia ini, banyak kita ketahui tambang-tambang batu bara. Tambang-tambang batu bara ini dapat kita temui antara lain di daerah Ombilin dengan pusat di Sawahlunto (SumBar), Sungai Berau (KalTim), dan Kotabaru (KalSel).
Manfaat
Apakah kalian tahu, batu bara merupakan bahan bakar fosil yang mengandung hidrokarbon suku tinggi. Batu bara ini dapat kita manfaatkan sebagai bahan baku pembangkit listrik yang sering kita sebut PLTU batu bara. Biaya PLTU batu bara ini 30% lebih murah dari pada pembangkit listrik lainnya. Dengan PLTU batu bara ini pemerintah dapat meningkatkan pasokan energi listrik untuk masyarakat.
Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan berbagai masalah di dunia ini. Harga minyak yang terlalu mahal, menimbulkan kenaikan harga berbagai bahan makanan. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, pemerintah akan mencairkan batu bara untuk mengurangi masalah kelangkaan BBM di Indonesia ini.
Kerugian
Tapi, apakah kalian juga tahu bahwa batu bara juga mengandung senyawa belerang. Nah, dengan adanya senyawa ini, batu bara juga akan menimbulkan pengaruh-pengaruh negatif. Gas belerang dioksida (SO2) apabila terhirup dan masuk ke dalam sistem pernafasan, akan bereaksi dengan air dalam saluran pernafasan, dan akan membentuk asam sulfit yang akan merusak jaringan dan akan mengakibatkan rasa sakit bahkan kematian. Apabila gas belerang trioksida (SO3) yang terhirup, maka akan terbentuk asam sulfat dalam tubuh. Asam sulfat ini lebih berbahaya daripada asam sulfit.
Baru-baru ini telah terjadi kasus-kasus pencemaran lingkungan akibat PLTU batu bara ini di daerah Cilacap. Hal ini terkait dengan flay ash batu bara yang beterbangan ke rumah penduduk di sekitar flay ash batu bara. Walaupun PLTU batu bara sekarang ini telah menggunakan presipitator (alat pembersih endapan).Tapi lagi-lagi adanya gas SOx dan NOx yang beterbangan ke angkasa sangat penting kita perhatikan.
Oksida belerang ini juga dapat menimbulkan hujan asam (repodisisi asam). Hujan asam adalah hujan dengan pH (keasaman) kurang dari 5,7. Polutan yang menyebabkan hujan asam adalah oksida belerang (SO2 dan SO3) dan Nitrogen dioksida (NO2). Oksida-oksida tersebut larut dalam air dan akan membentuk asam.
Hujan asam akan menimbulkan dampak negatif yaitu kerusakan hutan. Hujan asam menghilangkan unsur-unsur hara penting seperti kalsium dan magnesium pada tanaman. Hujan asam ini juga membuat tanah menjadi bersifat asam sehingga tidak baik bagi tanaman. Hujan asam ini juga membebaskan ion aluminium (Al) dan merkuri (Hg) dari tanah sehingga meracuni tanaman. Air asam ini juga dapat melarutkan tembaga (Cu) dan timbal (Pb) dari pipa logam untuk menyalurkan air sehingga persediaan air untuk kita konsumsi pun akan ikut berkurang.
Berbagai sungai dan danau juga telah menjadi asam karena pengaruh hujan asam ini. Keasaman air sungai ini tidak hanya terjadi karena hujan asam saja tetapi juga terjadi karena air buangan yang bersifat asam.
Hujan asam juga dapat merusak bahan bangunan seperti batu kapur, marmer, dan beton. Bahan bangunan tersebut mengandung kalsium karbonat (CaCO3) yang dapat larut dalam asam dengan reaksi seperti berikut :
Dengan berbagai dampak negatif, manusia juga akan menanggung akibatnya. Jika tanaman terus menerus mati, sedangkan kadar CO2 terus meningkat maka akan terjadi “global warming”. Sehingga akhir-akhir ini kita merasakan siang hari yang lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini akan mengakibatkan es di kutub akan mencair dan menenggelamkan pulau-pulau di dunia.
Bahan makanan yang membuat kita terus hidup akan berkurang dan bahkan habis secara tidak kita sadari. Ini membuat manusia kelaparan, sengsara, kesakitan dan akhirnya mati. Bahkan mungkin jika ini terus terjadi, tidak akan ada kehidupan lagi di dunia ini.
Selain itu, hujan asam juga dapat menimbulkan isu politik besar, karena sumber asal dan para korbannya sering terdapat dari tempat yang berbeda. Hal ini terjadi karena gas SOx dan NOx dapat beterbangan ribuan kilometer dari tempat PLTU batu bara itu berada.
Usaha-usaha Untuk Mengatasi
Usaha-usaha yang kini masih digunakan manusia untuk menagani hujan asam adalah menetralkan asamnya dengan basa. Contohnya adalah menetralkan danau yang bersifat asam dengan dicampur kalsium karbonat (basa) yang harganya cukup murah.
Mengurangi emisi belerang dioksida (SO2) sebagai penyebab utama hujan asam yang berasal dari pembakaran batu bara juga dapat mencegah hujan asam. Pemisahan belerang dari batu bara sebelum pembakaran sulit dilakukan. Hal yang mungkin dilakukan adalah dengan menyerap belerang dioksida sebelum masuk cerobong asap dengan menggunakan kalsium karbonat.
Belerang dioksida (SO2) yang bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3) akan menghasilkan kalsium sulfit. Kalsium sulfit ini dapat dioksidasi lebih lanjut menjadi kalsium sulfat yang dapat digunakan untuk membuat tembok. Akan tetapi cara ini memakan biaya yang cukup mahal dan pemakaian listrik dapat naik hingga 10%.
Selain dengan menetralkan asam dan mengurangi emisi belerang dioksida (SO2), kita juga dapat mencegah hujan asam dengan mengurangi emisi oksida nitrogen (NOx). Pengurangan oksida nitrogen akan mengurangi asam nitrat dalam air hujan dan juga akan menjadi katalis pada pembentukan ozon dan asam sulfat. Salah satu cara untuk mengurangi emisi oksida nitrogen (NOx) adalah dengan mengontrol pembakaran dalam mesin.misalnya dengan mengatur suhu mesin dan perbandingan bahan bakar terhadap udara.
0 komentar:
Posting Komentar